Pancasila dan Pandemi Covid-19
(Sebuah Catatan Refleksi)
Oleh:
Ferry H. Umbu Tamu,S.Pd,M.M
“Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah.” - Sukarno
Setiap tanggal 1 Juni Bangsa Indonesia selalu memperingati hari lahirnya Pancasila yang menjadi sejarah panjang dalam proses lahirnyanya. Sudah 76 tahun Bangsa Indonesia menjadikan Pancasila sebagai landasan, dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam mengatur tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak Tahun 2017 hari lahir Pancasila dijadikan sebagai Hari Libur Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016.
Sebuah catatan refleksi bagi Bangsa Indonesia saat ini yang hampir berada pada situasi dan keadaan akhir pandemi covid-19, sejak Maret 2020. Dampaknya dapat dirasakan terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Namun nilai-nilai Pancasila harus tetap dan terus tegakkan dan dipertahankan eksistensinya dalam pelaksanaan setiap kebijakan Pemerintah. Oleh karena itu nilai-nilai Pancasila perlu dihayati, direnungkan dan diamalkan dimasa akhir pandemi covid-19.
Pertama, pandemi covid-19 terjadi tidak lepas dari kehendak Tuhan pencipta alam semesta. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia mengakui adanya Tuhan sehingga masyarakatnya menganut agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu harus dilandasi dengan kecerdasan spiritual. Seluruh komponen Bangsa terus berdoa dan bersyukur bagi pemulihan Bangsa sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
Kedua, pandemic covid-19 menjadi masalah Kemanusiaan yang oleh Pemerintah ditangani dengan serius. Sila kedua Kemanusian yang Adil dan beradab, menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia mencintai keadilan dan keberadaan hidup setiap warganya. Karena itu bertindaklah dengan rasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Setiap orang berhak dan berkewajiban mendapatkan bantuan dan pertolongan oleh tim tenaga kesehatan dan sukarelawan sebagai garda terdepan.
Ketiga, pandemi covid-19 mengancam Persatuan dalam semua aspek kehidupan berbangsa. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia menjunjung tinggi rasa nasionalisme, kekeluargaan, kebersamaan, dan gotong-royong. Karena itu setiap tindakan perlu dilandasi dengan rasa senasib sepenanggungan, semangat, komitmen dan saling mendorong untuk memutuskan mata rantai demi mengakhiri penyebaran virus covid-19. Dengan menyatukan tekat dan pemahaman untuk mengikuti kegiatan vaksin ditempat yang telah ditunjuk dan disiapkan.
Keempat, pandemi covid-19 melemahkan Demokrasi sebagai prinsip dasar bernegara. Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia menghormati setiap pelaksanaan tindakan berdasarkan kesepakatan bersama. Karena itu perlu dilandasi dengan kesepakatan bersama dalam pelaksanaan peran serta rakyat dan wakil rakyat sebagai bagian dari tugas dan tanggungjawab terhadap kelangsungan kehidupan.
Kelima, pandemi covid-19 menjadi masalah Sosial dalam setiap lini kehidupan bermasyarakat. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia tidak memandang suku, agama, ras dan antar golongan terhadap setiap warga dalam memberikan perlakuan dan pelayanan kesehatan. Karena itu perlu tindakan yang dilandasi dengan perasaan memiliki antara satu sama yang lain sehingga pekerjaan yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan bersama.
Pancasila dan Pandemi Covid-19
sumber: compasiana.com
Berkaitan dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila di akhir masa pandemi covid-19 ini maka perlu adanya dukungan dari setiap komponen Bangsa dan Negara Indonesia tanpa terkecuali melalui langkah-langkah strategis atau pun kebijakan pemerintah agar Bangsa Indonesia benar-benar dapat dinyatakan bebas dari pandemi covid-19 dimasa mendatang. Penanganan kasus pandemi covid-19 semakin terkendali. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pernyataan pers di Istana Kepresiden Bogor 17 Mei 2022 terkait pelonggaran penggunaan masker. Pemerintah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pengunaan masker di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang. Namun tidak untuk kegiatan diruang tertutup dan transportasi publik. Sedangkan pelaku perjalanan dalam dan luar negeri tidak perlu lagi melakukan tes swab pcr atau antigen, asalkan sudah mendapat vaksin lengkap.
Marilah kita segenap komponen Bangsa Indonesia bersama-sama bergandeng tangan berpadu dalam satu rasa, bersama nilai-nilai Pancasila bangkit melawan dan mengakhiri pandemi covid-19, membebaskan setiap warga Negara dari ketakutan selama ini dengan mengikuti protokol kesehatan melalui gerakan 5M Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Selamat hari lahirnya Pancasila.
*) Penulis Kepala SMA Negeri 4 Takari
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Guru Itu Obor Yang Tak Redup. Nyalakan Masa Depan
Guru dalam bahasa Jawa menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa
Pahlawan Kecerdasan
Pertempuran Surabaya 10 November 1945, yang merupakan episentrum pembuktian de facto atas kedaulatan yang baru saja diproklamirkan pada 17 Agustue 1945. kedaulatan de jure Indonesia diu
HUJAN BERKAT PADA SUKACITA NATAL 2023 DAN PERESMIAN GEDUNG BARU SMANPATRI
Perayaan Syukur Natal tahun 2023 dan Tahun baru 2024 dengan Thema "Kemuliaan bagi Allah dan damai sejahtera di bumi". Momentum peryaaan tahun ini sedikit berbeda den
PANTUN
Warna mewah adalah warna mawar Bulat kecil itu keledai Jangan malas Ketika belajar Jika memang ingin pandai Begitu luas lautan Yang harus kita salami Begitu luas wawasan
PERAN GURU PENGGERAK DALAM MENINGKATKAN SEMANGAT BELAJARAR MURID DI SMA NEGERI 4 TAKARI, KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh : Mesra Handayani Pahnael BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Indonesia adalah salah satu negara yang menerapkan pola pendidikan dengan guru penggerak. Guru peng
Implementasi Panca Prasetya KORPRI
(Sebuah Catatan Refleksi Kinerja) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Setiap tanggal 29 November selalu diperingati sebagai hari Korps Pegawai Republik Indonesia yang disingkat KOR
Tata Kelola Pendidikan di NTT
(sebuah catatan analisis dari perpektif good governance) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Menurut Bank Dunia (2013), tata kelola pendidikan dibagi menjadi empat dimensi utama. D
Kepahlawanan dan Keteladanan
(Sebuah Catatan Refleksi Sejarah) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita. (Mohammad
Sumpah Pemuda dan Tantangan terhadap Generasi Z !
(Sebuah Catatan Refleksi) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) “Berikan aku 10 pemuda dan akan aku goncang dunia”. Ir. Soekarno. Setiap tanggal 28 Oktober Ba
Masih Ada Krisis Pendidikan di Pedesaan.
Oleh Orip Atte Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa, dan merupakan wahana dalam