• SMA NEGERI 4 TAKARI
  • BANGKIT (Berkarakter, Adil, Netral, Gembira, Kreatif, Inovatif, dan Teladan)

AKIBAT HAMIL BEBERAPA REMAJA DI TA’OEL TERPAKSA PUTUS SEKOLAH

(sebuah catatan tentang dampak pengaruh lingkungan)

Oleh : Orip Atte

Pembangunan nasional sangat membutuhkan sumber daya manusia berkualitas. Untuk menciptakan manusia yang berkualitas harus dibekali dengan pendidikan. Melalui pendidikan, seseorang akan dapat mengembangkan potensi yang diperlukan dalam usaha menyesuaikan dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu yang semakin berkembang pesat, serta untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.

Untuk membangun SDM yang berkualitas, Indonesia memasukkan pendidikan menjadi salah satu dari tujuh agenda pembangunan nasional tahun 2020-2024. SDM yang diharapkan terbentuk melalui pendidikan ini adalah generasi yang sehat, cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter. Dalam mewujudkan cita-cita ini, seluruh masyarakat yang memasuki rentang usia sekolah (7-24 tahun) harus aktif melakukan kegiatan bersekolah tanpa terkecuali. Indonesia menggunakan indikator Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk menggambarkan kemampuan sistem pendidikan menyerap penduduk usia sekolah. Dalam riset yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS): Statistik Pendidikan 2020, mengungkapkan, semakin meningkatnya kelompok usia, partisipasi sekolahnya semakin menurun.

Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Karena proses pendidikan adalah suatu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan yang matang untuk mencapai tujuan atau cita-cita. Tanpa pendidikan mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera menurut konsep pandangan mereka.

Namun cita-cita demikian tak mungkin dicapai jika manusia itu sendiri tidak berusaha keras meningkatkan kemampuannya se-optimal mungkin melalui proses pendidikan. Jika suatu bangsa ingin maju, maka kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan. Untuk itu, semua anak usia sekolah harus mengenyam pendidikan. Namun itu tidak sesuai dengan keadaan di Indonesia saat ini dimana masih banyak anak usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

Remaja pada usia sekolah 12-19 tahun sangat rentan dengan berbagai perilaku yang mengarah kepada penyimpangan, misalnya kenakalan remaja, narkoba, kriminalitas dan pergaulan bebas dijadikan tempat pelarian untuk menunjukkan pencarian jati diri bagi mereka. Pada umumnya mereka memiliki kondisi emosional yang masih labil. Selalu mencari perhatian dari orang tua, teman, keluarga dan lingkungan masyarakatnya. Mereka mudah jatuh sehingga dengan mudah mengikuti pengaruh dari luar melalui teknologi dan informasi seperti tontonan di handpone dan internet yang sudah menjelajah hingga ke pelosok desa.

Selanjutnya yang dimaksud dengan remaja adalah individu yang sedang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dalam rentangannya terjadi perubahan-perubahan dan perkembangan pada aspek fisik, psikologis, kognisi, dan sosialnya. Sedangkan, rentang usia pada masa remaja tersebut adalah antara 12-21 tahun.

Perilaku melakukan hubungan seksual di luar nikah menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya hamil pranikah pada remaja di dua wilayah Desa yaitu Tanini dan Oelnaineno (Ta’Oel). Selain melakukan hubungan seksual di luar nikah, gagalnya pendidikan dalam keluarga, seperti orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga mengabaikan tanggung jawabnya kepada anak-anaknya untuk membimbing dan mengarahkan anak-anaknya juga menjadi penyebab terjadinya putus sekolah dan kasus hamil dibangku pendidikan. Putus sekolah karena kasus hamil saat masih dibangku pendidikan juga disebabkan oleh pondasi pendidikan agama dalam keluarga yang minim, penanaman tentang norma-norma agama sejak usia dini tidak tersosialisasikan dengan baik. Faktor lingkungan pergaulan bebas juga menjadi penyebab terjadinya hamil pranikah pada remaja di Ta’oel.

Kasus hamil pranikah yang terjadi adalah pasangan pacaran. Dimulai dari pacaran inilah kemudian mengarah kepada perilaku seks bebas. Wilayah Ta’oel yang didominasi kebun dan daerah yang sepi dan masih dikelilingi hutan menjadi tempat yang dimanfaatkan pasangan remaja untuk berpacaran bahkan melakukan hubungan seks.

Atas dasar diatas ini yang membuat penulis merasa tertarik untuk mengungkap permasalahan yang terjadi dari tahun 2012 sampai 2026 mengenai “Akibat Hamil Pranikah Beberapa Remaja Ta’oel Terpaksa Putus Sekolah”  Di sini penulis menuliskan beberapa faktor apa saja yang menyebabkan banyak remaja putus sekolah karena kasus hamil pranikah, khususnya pada remaja usia 12-19 tahun atau sedang menempuh pendidikan SMP- SMA di Ta’oel dan  dampak yang ditimbulkan bagi pelaku dan juga keluarga, serta solusi untuk mencegah permasalahan remaja putus sekolah kasus hamil pranikah.

  1. Remaja

Masa remaja adalah masa yang menujukkan masa peralihan dari masa kanakkanak menuju ke masa selanjutnya yaitu masa dewasa. Pada masa remaja ini terjadi perkembangan-perkembangan seperti perkembangan fisik, psikologis, sosial, dan secara moral. Menurut Hall (Mussen, 1994:478), masa remaja merupakan masa topan badai, dimana pada masa tersebut timbul gejolak dalam diri akibat pertentanan nilai-nilai akibat kebudayaan yang makin modern. Batasan usia untuk remaja (adolescene) menurut Hall antara usia 12-25 tahun. Menurut Monks, remaja adalah usia peralihan antara masa remaja dan masa dewasa. Fase masa remaja secara globa berlangsung antara usia 12-21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal, 15- 18 tahun: masa remaja pertengahan, 18-21: masa remaja akhir (Monks, 2001:262)

  1. Putus Sekolah

Putus sekolah atau drop out adalah mereka yang terpaksa berhenti sekolah sebelum waktunya (Martono HS dan Saidiharjo, 2002: 74). Seseorang dikatakan putus sekolah apabila seseorang tidak dapat menyelesaikan program suatu sekolah secara utuh yang berlaku sebagai suatu system (Bagong Suyanto, 2010). Pendapat lain menyatakan bahwa putus sekolah adalah meninggalkan sekolah sebelum menyelesaikan keseluruhan masa belajar yang telah ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan (Mudyaharjo, 2001: 498).

  1. Penyebab putus sekolah

Faktor penyebab anak putus sekolah terdiri dari beberapa unsur seperti kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, keadaan sarana dan prasarana yang kurang mendukung, bahkan motivasi anak untuk bersekolah yang rendah. Selain faktor-faktor itu juga, faktor lingkungan tempat tinggal anak dan lingkungan bermain sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan anak.

  1. Hamil Pra Nikah

Hamil yaitu suatu proses pertemuan antara sel telur dan sperma sehingga menjadi embrio yang terjadi kepada wanita pada masa subur dengan salah satu ciri yaitu terlambatnya siklus haid. Hamil pranikah yaitu suatu proses kehamilan yang terjadi sebelum adanya sebuah pernikahan sehingga anak tidak memiliki status kewarganegaraan yang syah (Al Husaini : 2008 )

Hamil pranikah terjadi karena beberapa sebab antara lain disebabkan oleh pergaulan bebas, pemerkosaan, pola asuh orang tua, pergaulan, kehidupan ekonomi keluarga, lingkungan, dan lain sebagainya. Seorang remaja yang tidak mampu mengendalikan diri, sehingga terlibat dalam kehidupan seksual secara bebas (di luar aturan norma sosial), misalnya seks pranikah, kumpul kebo (sommonleven), prostitusi, akan berakibat negatif seperti STD’s (seksually transmitted diseases), kehamilan (pregnancy) drop-out dari sekolah. Biasanya merekalah yang memiliki sifat ketidakkonsistenan (inconsistency) antara pengetahuan, sikap, dan perilakunya. Misalnya, walaupun seesorang mempunyai pengetahuan dan sikap bahwa seksual-pranikah itu tidak baik, namun karena situasi dan kesempatan itu memungkinkan, serta ditunjang oleh niat untuk melakukan hubungan seks pranikah, maka individu ternyata tetap saja melakukan hal itu. Akibatnya perilakunya tidak konsisten dengan pengetahuan dan sikapnya (Dariyo, 2004: 88).

  1. Dampak Hamil Pranikah

 Para ahli dari berbagai bidang pendidikan, sosiologi, ekonomi, kedokteran, hukum, menyimpulkan ada lima masalah konsekuensi logis dari kehamilan yang harus ditanggung oleh remaja (Dariyo, 2004: 94)., yaitu:

  1. Konsekuensi terhadap pendidikan: putus sekolah (DO). Remaja wanita yang hamil, umumnya tidak memperoleh penerimaan sosial dari lembaga pendidikannya, sehingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya. Demikian pula, remaja laki-laki yang menjadi pelaku utama penyebab kehamilan itu, mau tidak mau juga akan mengalami nasib yang sama, yaitu drop-out dari sekolahnya.
  2. Konsekuensi sosiologis: sangsi sosial. Orang tua yang anaknya hamil, akan menanggung rasa malu. Maka untuk menyelesaikan masalah ini, jalan terbaik ialah segera menikahkan anaknya yang hamil dengan remaja laki-laki (pelaku utama) yang menghamilinya. Demikian pula, masyarakat akan mencemooh, mengisolasi atau mengusir orang-orang yang melanggar norma masyarakat.
  3. Konsekuensi penyesuaian dalam kehidupan keluarga sebagai orang yang telah menikah, tentu remaja harus dapat menyesuaikan diri dalam keluarganya yang baru. Ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri, sehingga sering terjadi konflik-konflik, pertengkaran, percek-cokan, maka akan dapat berakhir dengan perceraian.  

Pergaulan bebas bisa dimaknai sebagai pergaulan remaja dengan lawan jenis tanpa batas atau tanpa ikatan aturan. Pergaulan di kalangan remaja terutama di usia sekolah saat ini sangat mengkhawatirkan, oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian dan pengawasan dari berbagai pihak terutama kedua orang tua.

Pengawasan dan bimbingan perlu diberikan kepada anak supaya anak tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas yang berdampak pada perilaku seks bebas remaja. Pergaulan bebas bisa dilihat dari cara berpacaran remaja. Saat ini, gaya pacaran remaja sudah banyak berubah dan lebih berani. Banyak pasangan remaja yang menunjukkan kemesraan di tempat-tempat umum. Selain itu, di akun pribadi media sosial mereka banyak ditemukan foto-foto yang menunjukkan kedekatan mereka seperti sepasang suami-istri. (OA)

 

Daftar Rujukan :

Al-Husaini, Aiman, 2008. Tahun Pertama Pernikahan. Bandung: Universitas Pendidikan Bandung Anastasia, H. 2001.

Dampak Psikologis Perempuan Hamil Di Luar Nikah. Semarang : Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Bagong, Suyanto. 2010.

Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Prenada Media Group Bagong, Suyanto. Sutinah. 2005

Metode Penelitian Sosial Sebagai Alternatif Pendekatan. Yogyakarta : Pustaka Dagun, M. S. 2002.

Psikologi Keluarga. Jakarta : Rineka Cipta Dariyo, Agus. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor Selatan: Graha Indonesia

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Guru Itu Obor Yang Tak Redup. Nyalakan Masa Depan

Guru dalam bahasa Jawa menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa

24/11/2025 20:43 - Oleh Administrator - Dilihat 1013 kali
Pahlawan Kecerdasan

Pertempuran Surabaya 10 November 1945, yang merupakan episentrum pembuktian de facto atas kedaulatan yang baru saja diproklamirkan pada 17 Agustue 1945. kedaulatan de jure Indonesia diu

12/11/2025 20:19 - Oleh Administrator - Dilihat 238 kali
HUJAN BERKAT PADA SUKACITA NATAL 2023 DAN PERESMIAN GEDUNG BARU SMANPATRI

Perayaan Syukur Natal tahun 2023 dan Tahun baru 2024 dengan Thema "Kemuliaan bagi Allah dan damai sejahtera di bumi". Momentum peryaaan tahun ini sedikit berbeda den

16/01/2024 18:33 - Oleh Administrator - Dilihat 645 kali
PANTUN

Warna mewah adalah warna mawar Bulat kecil itu keledai Jangan malas Ketika belajar Jika memang ingin pandai   Begitu luas lautan Yang harus kita salami Begitu luas wawasan

15/06/2023 10:03 - Oleh Administrator - Dilihat 727 kali
PERAN GURU PENGGERAK DALAM MENINGKATKAN SEMANGAT BELAJARAR MURID DI SMA NEGERI 4 TAKARI, KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR

Oleh : Mesra Handayani Pahnael   BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Indonesia adalah salah satu negara yang menerapkan pola pendidikan dengan guru penggerak. Guru  peng

27/04/2023 11:46 - Oleh Administrator - Dilihat 1141 kali
Implementasi Panca Prasetya KORPRI

(Sebuah Catatan Refleksi Kinerja) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Setiap tanggal 29 November selalu diperingati sebagai hari Korps Pegawai Republik Indonesia yang disingkat KOR

29/11/2022 09:20 - Oleh Administrator - Dilihat 2206 kali
Tata Kelola Pendidikan di NTT

(sebuah catatan analisis dari perpektif good governance) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Menurut Bank Dunia (2013), tata kelola pendidikan dibagi menjadi empat dimensi utama. D

25/11/2022 09:33 - Oleh Administrator - Dilihat 1125 kali
Kepahlawanan dan Keteladanan

(Sebuah Catatan Refleksi Sejarah) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *) Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita. (Mohammad

10/11/2022 08:53 - Oleh Administrator - Dilihat 1639 kali
Sumpah Pemuda dan Tantangan terhadap Generasi Z !

(Sebuah Catatan Refleksi) Oleh: Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd.,M.M *)  “Berikan aku 10 pemuda dan akan aku goncang dunia”. Ir. Soekarno. Setiap tanggal 28 Oktober Ba

31/10/2022 13:00 - Oleh Administrator - Dilihat 2145 kali
Masih Ada Krisis Pendidikan di Pedesaan.

Oleh Orip Atte Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa, dan merupakan wahana dalam

27/08/2022 09:23 - Oleh Administrator - Dilihat 2528 kali