• SMA NEGERI 4 TAKARI
  • BANGKIT (Berkarakter, Adil, Netral, Gembira, Kreatif, Inovatif, dan Teladan)

Renungan Lukas 10: 25-37 Orang Samaria Yang Murah Hati

Oleh :

Ferry H. Umbu Tamu, S.Pd,.M.M

Ayat 25 : Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?

Siapakah Ahli Taurat? Ahli taurat atau sofer adalah para pakar dalam hukum taurat yang menerangkan hukum taurat itu sendiri bagi agama Yahudi. Ahli Taurat bertugas menyusun peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan untuk setiap situasi kehidupan keagamaan. Ahli Taurat tersebar di Yudea dan Galilea sebagai guru-guru yang mengajar anak-anak dan orang-orang dewasa mengenai hukum taurat.  Ahli Taurat juga biasa disebut sebagai cendekiawan yang dilatih untuk mengembangkan ajaran, mengajar murid-murid baik melalui lisan maupun tulisan dan menerapkan dalam lingkungan orang Yahudi. Selain itu, ahli taurat juga mempelajari dan menafsirkan secara teliti. Ahli Taurat juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan menjadi anggota dari  (mahkamah agama) di samping imam besar dan tua-tua orang yahudi.

Apa itu hidup kekal? Hidup kekal bagi ahli Taurat itu adalah konsep hidup tanpa akhir. Tetapi hidup kekal yang dimaksud pada bagian ini bukanlah seperti yang dipahami oleh ahli Taurat tersebut, melainkan keselamatan di dalam kehidupan dengan Allah pada saat ini dan saat yang akan datang, yaitu hidup sejati, hidup kekal yang dimaksud bukan hanya dalam arti kuantitas hidup, tetapi juga dengan kualitasnya. Di sini perkataan “hidup kekal” memperlihatkan, bahwa hidup kekal hanya diperoleh dari Allah dan hidup kekal adalah hidup di dalam Roh bersama dengan Allah, yaitu suatu hidup di dalam keselamatan yang dinyatakan di dalam kehidupan kini. Yakobus 2: 17, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”; Filipi 2:12, “tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”.

Hidup kekal adalah kehidupan yang akan dijalani oleh setiap orang setelah mengalami kematian. Ada dua kehidupan yang akan dijalani oleh setiap orang setelah mengalami kematian. Pertama, kekal bersama dengan orang-orang durhaka, iblis, setan-setan dalam dapur api (neraka). Kehidupan kekal kedua adalah dalam Kerajaan Bapa di Surga. Matius 13:41-42 “Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api disanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi”.

Ayat 26 : Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"

Apa itu Hukum Taurat? Hukum Taurat dalam pengertian yang lebih sempit menunjuk pada 5 (lima) kitab Musa, yaitu; Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan yang terletak di permulaan Kitab Suci. Musa menerima hukum Taurat  dengan perantaraan Malaikat. Kisah Para Rasul 7:53 “Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya”; Ibrani 2:2 “Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal”.

Orang-orang Yahudi yang mengaku dirinya pengikut Musa, percaya bahwa Allah telah berfirman kepada Musa secara langsung. Yohanes 9:28-29 “Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang”. Orang Yahudi memiliki keyakinan, bahwa Musa  yang dipilih oleh Allah untuk menerima hukum Taurat di atas gunung Sinai untuk disampaikan kepada umat Israel.

Bagi orang Yahudi ke-5 kitab Musa merupakan sesuatu yang penting dalam hidup keagamaan mereka. Mereka yakin bahwa Musa yang menulis kelima kitab tersebut. Kelima kitab Taurat menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi. Dengan berpegang pada hukum Taurat dengan segala rinciannya, seseorang menunjukkan ketaatannya dan responsnya yang setia kepada Allah. 

Ayat 27 : Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Hukum Taurat adalah penuntun kita kepada kasih karunia Allah sebab kesimpulan Hukum Taurat adalah kasih. Ulangan 6: 5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu “. Imamat 19:18 “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”.

Kasih kepada Allah itu tidak boleh setengah-setengah. Ini berarti kita mengasihi Tuhan dengan totalitas hidup kita dengan menuruti segala perintah-Nya dan menaruh perhatian penuh kepada kepentingan-kepentingan Tuhan dengan mengutamakan apa yang Tuhan kehendaki. Hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan merangkum seluruh diri kita.

Mengasihi dengan segenap hati berarti menyerahkan segala proses pemikiran, perasaan dan keputusan hanya kepada Tuhan untuk dituntun dan dimanfaatkan demi tercapainya kehendak Tuhan. Dengan segenap jiwa berarti menyerahkan segala perkara nafsu keinginan kepada kehendak Tuhan. Dengan segenap akal budi berarti memikirkan segala sesuatu yang berkenan kepada Tuhan bukan berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Dengan segenap kekuatan berarti bertindak dengan sekuat tenaga menegakkan keadilan dan kebenaran.

Ayat 28 : Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.

Secara teori jawaban ahli taurat itu benar, karena itu Yesus memintanya untuk mempraktekkannya dalam perbuatan. Imamat 18:5 “Sesungguhnya kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN”.

Ayat 29 : Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Mengapa ahli Taurat membenarkan dirinya? Karena Ahli Taurat sulit untuk mengakui kelemahan. Akibatnya, ia juga menutup diri terhadap anugerah pembenaran dari Tuhan. Tidak seorang pun sempurna dalam hal kasih. Sebab itu, marilah kita mengakui ketidakmampuan untuk mengasihi. Kita perlu memohon pertolongan Tuhan agar mampu melaksanakan hukum kasih itu. Roma 3:20 ‘Sebab tidak seorangpun dapat dibenarkan dihadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum taurat orang mengenal dosa’.

Siapakah sesama manusia? Menurut orang Yahudi, “sesama” adalah orang yang satu komunintas agama dan bangsa. Imamat 19:18 “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Ada kemungkinan juga orang asing yang ada dalam lingkungan orang Yahudi yang sudah menjadi satu komunitas dengan orang Yahudi dalam agama, itu yang disebut bukan orang Yahudi yang memeluk agama Yahudi Imamat 19:34 “orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli diantaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing ditanah Mesir; akulah Tuhan”. Sedangkan menurut Yesus, sesama manusia  tidak terbatas pada ikatan hubungan apapun. Matius 5 : 43-48 “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”.

Ayat 30 : Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Bagaimana gambaran umum Yerusalem dan Yerikho? Secara geografis Yerusalem berada pada posisi yang lebih tinggi yaitu  701 diatas permukaan laut dari yerikho yaitu 396 dibawah permukaan laut yang mengakibatkan yerikho menjadi tempat yang palin terendah didunia. Jalan dari Yerusalem ke Yerikho sepanjang 27 km, terbentang jalan menurun sejauh 1.200 meter. Pada saat itu jalan yang menghubungkan Yerusalem dan Yerikho sangat tidak aman atau berbahaya baik karena kecelakaan maupun perampokan. Sehingga jalan ini sering disebut ‘jalan merah’ atau ‘jalan darah’. Yerusalem disebut sebagai kota kudus dan Yerikho  sebagi kota terkutuk.

Ayat 31 : Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

Mengapa seorang Iman melihat orang itu dan melewatinya dari seberang jalan? Alasan teologisnya adalah  Imamat 21 : 1 “TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya”; Sikap seorang  imam; mengabaikan dengan tidak mau mengambil resiko karena alasan kekudusan pelayanan di Bait Allah.

Ayat 32 : Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

Mengapa seorang Lewi melihat orang itu dan melewatinya dari seberang jalan? Alasan teologisnya adalah Bilangan 19:11 “Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya”; Sikap seorang Lewi; mencari aman dengan tidak peduli dan tidak mau pusing dengan masalah orang lain.

Ayat 33 : Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Siapakah orang Samaria? Orang Samaria merupakan hasil perkawinan campur bangsa Yahudi dengan bangsa lain sejak 400 SM. Sudah lama terjadi permusuhan etnis dan agama antara orang Yahudi dan orang Samaria. Orang Yahudi menganggap orang Samaria lebih hina dari orang kafir.

Mengapa orang Samaria menolong orang itu? Karena, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, kalimat ini menunjukkan bahwa karakter orang Samaria ini menggambarkan sifat yang ada dalam diri Yesus. Markus 6:34 “ketika Yesus mendarat, Ia melhat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajar banyak hal kepada mereka”. Matius 9:36 “melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka , karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”.

Ayat 34 : Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Sikap seorang Samaria; mengasihi dengan tindakan nyata oleh karena hati yang tergerak oleh belas kasihan; apa yang dilakukannya? 1. Menyirami luka-luka dengan minyak dan anggur; 2. Membalut luka-lukanya; 3. Menaikkan ke atas keledai tunggangannya sendiri; 4.Membawa ketempat penginapan dan merawatnya; 1 Yohanes 3:18 “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”.

Ayat 35 : Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Sikap seorang Samaria; mengasihi dengan tulus tanpa menuntut balasan; apa yang dilakukannya?  1. menyerahkan 2 dinar kepada pemilik penginapan; 2. Memberikan pesan kepada pemilik penginapan untuk merawat orang sakit; 3. Akan mengganti kelebihan ketika dia kembali;. 1 Yohanes 3:17 “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”.

Ayat 36 :  Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

Pertanyaan Yesus mengguncang pandangan Ahli Taurat tentang siapakah sesama manusia dari ke-3 contoh yang diceritakan?. Disini Yesus mengubah cara pandang Ahli Taurat tentang sesama manusia dari cara pandang yang sempit. Terjadi perubahan konsep tentang sesama manusia dalam pandangan dan kehidupan Ahli Taurat tersebut. Pertanyaannya apakah cara pandang tersebut terwujud dalam tindakan?.

Ayat 37 : Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Jawaban Ahli Taurat benar. Yesus memerintahkan Ahli Taurat untuk melakukan secara tindakan atas jawaban yang disampaikannya agar Ahli Taurat itu terus-menerus melakukan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang Samaria itu. Itulah kehidupan kasih yang menjadi kewajiban setiap orang percaya, mengasihi sesama manusia pada setiap waktu. Yakobus 1 : 22 “tetapi hendaknya kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”.

Amin.

 

Komentar

Kerenn Bangettt

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KASIH TAK PERNAH BERKESUDAHAN

1 korintus 13:4  “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”   Syalom, untuk kita semua di sini kami

15/06/2023 11:01 - Oleh Administrator - Dilihat 488 kali
Kerja sama, sama-sama kerja

Pada umumnya orang yang tidak rendah hati suka menyombongkan diri bahwa dialah yang paling berpengaruh  dan berjasa dalam suatu kesuksesan. Ia melupakan semua keberhasilan itu meru

30/04/2022 20:00 - Oleh Administrator - Dilihat 1323 kali